KreasiPrimaLand.com—Milenial dinilai tidak bisa membeli rumah, menjadi trending topik yang lumayan menakutkan belakangan ini. Selama ini, semua kemudahan mulai dari kebijakan pemerintah hingga kemudahan dari pengembang sudah diberikan, tetapi generasi ini sebagai konsumen terbanyak belum juga tertarik.

Walaupun properti terhitung sebagai investasi yang menjanjikan untuk masa depan, masih banyak anak milenial belum berani membeli properti. Padahal sebenarnya, investasi properti bisa memberikan keuntungan hingga berkali-kali lipat.

Investasi properti dapat memberikan keuntungan yang menggiurkan dari peningkatan harganya yang terjadi setiap tahun. Jika properti tersebut disewakan, kamu bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari properti tersebut.

Hal ini tentu memunculkan pertanyaan besar; mengapa generasi milenial sulit beli rumah? Berikut ini adalah beberapa alasan umum mengapa milenial susah beli rumah:

Gaya hidup konsumtif

Berbeda dengan baby boomers, generasi milenial cenderung memiliki tingkat konsumsi yang lebih tinggi terhadap sesuatu yang sifatnya hanya rekreasional dan kurang esensial.

Hal ini bukan karena mereka meremehkan harga rumah yang semakin tinggi tiap tahunnya. Justru karena generasi milenial merasa jika harga rumah sangat mahal, maka skala prioritasnya dialihkan ke hal lain, misalnya tiket konser atau liburan. Esensi pilihan ini juga dipengaruhi adanya tuntutan generasi milenial untuk eksis di media sosial.

Kenaikan upah rendah

Menurut data Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) pada satu dekade terakhir, terjadi kenaikan harga tempat tinggal sebesar 39,7% di 14 kota besar di Indonesia.

Namun kenaikan UMR setiap tahunnya hanya sekitar 10% saja. Dari kedua data tersebut sangat terlihat adanya kesenjangan antara kenaikan harga rumah yang tinggi dengan kenaikan gaji yang lebih rendah.

Hal inilah yang menyebabkan milenial susah untuk bisa beli rumah.

Ranah kerja industri kreatif

Salah satu faktor yang memengaruhi milenial sulit untuk membeli rumah adalah pekerjaan. Saat ini bekerja di industri kreatif sedang menjadi tren di Indonesia, khususnya bagi generasi milenial.

Para milenial ini juga cenderung memilih untuk membuka usaha sendiri dibandingkan bekerja dengan orang lain atau perusahaan. Hal tersebut yang menyebabkan mereka tidak memiliki penghasilan tetap dan slip gaji resmi, sehingga sulit untuk mengajukan KPR ke bank.

Belum punya uang muka atau Down Payment (DP)

Hambatan lainnya ialah milenial sulit mengumpulkan uang muka untuk membeli properti. Padahal mengumpulkan uang muka bisa dilakukan oleh siapa saja, asal ada kemauan untuk mengumpulkan secara perlahan. Apalagi jika kamu telah menjadi karyawan tetap di sebuah perusahaan.

Seorang pekerja lepas atau freelance saja bisa kok mengumpulkan uang muka sebesar Rp 40 juta hingga Rp 50 juta dalam dua tahun. Dengan asumsi penghasilan bulananmu Rp 6 juta hingga Rp 8 juta per bulan, kamu menyisihkan 30 persen dari penghasilan bulanan secara rutian.

Khawatir ditipu agen atau pengembang

Sebagian pembeli properti khawatir tertipu oleh agen atau pengembang. Mereka takut dana yang telah disetor ke agen atau pengembang raib. Selain itu, dana yang diberikan tidak digunakan untuk membangun unit properti sehingga unit yang telah dibeli tidak kunjung selesai dikerjakan.

Solusinya, jangan ragu untuk bertanya mengenai hal-hal yang belum kamu mengerti. Selain itu kamu memastikan dana yang kamu setorkan selalu memiliki bukti penerimaan dana yang jelas. Jangan pernah mengirim dana ke rekening pribadi agen pribadi, hanya ke rekening perusahaan.