produk bank syariah indonesia

Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir akan menarik unit usaha syariah BTN Syariah bergabung dengan induk BUMN Syariah ke Bank BSI

Erick Thohir akan menarik unit usaha syariah (UUS) PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) bergabung dengan induk BUMN Syariah, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS).
Bergabungnya UUS BTN diharapkan akan memperkuat posisi dan memeperbesar kapasitas pasar bank-bank syariah BUMN yang kini tergabung dalam BRIS.

“Itulah yang kita harapkan supaya posisi BSI ini semakin besar dan tentunya semakin kuat, dalam arti kapitalisasi pasar dan tentu dorongannya untuk industri perbankan,” terangnya.
Erick menambahkan, BSI ke depan diharapkan akan dapat meningkatkan produktivitas Industri Halal Indonesia yang saat ini masih belum masuk lima besar dunia.

“Kalau kita lihat, kita merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Tetapi tingkat produktivitasnya belum masuk lima besar Industri Halal dunia. Karena itu kita dorong BSI kesana,” tekadnya.
Tidak hanya mencaplok UUS BTN, pada tahun ini Kementerian BUMN juga akan melakukan percepatan penyertaan modal negara melalui saham Seri A Dwiwarna di BSI pada kuartal ketiga tahun ini.

“Insya Allah Pak Wapres, saya sudah diskusi dengan para Direksi Himbara untuk saham Dwiwarna ini kita akan pastikan terjadi di tahun ini,” ungkapnya.

Sebagai informasi, saat ini porsi kepemilikan saham BRIS dimiliki 50,83% oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), 24,85%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), 17,25%. Selanjutnya, pemegang saham publik 17,25%. Adapun, kepemiikan di bawah 1% masing-masing dimiliki oleh DPLK BRI – Saham Syariah, PT BNI Life Insurance dan PT Mandiri Sekuritas.

Sebagai catatan, sepanjang tahun 2021 lalu, laba bersih Unit Usaha Syariah (UUS) Bank BTN tercatat naik 37,33% yoy dari Rp 134,86 miliar tahun 2020 menjadi Rp 185,20 miliar pada tahun 2021.

Pada akhir tahun 2021, pembiayaan syariah tercatat tumbuh 9,93% yoy menjadi Rp 27,55 triliun dibandingkan tahun 2020 sebesar Rp 25,06 triliun.

Dari sisi rasio pembiayaan bermasalah atai Non-Performing Financing (NPF) gross membaik menjadi sebesar 4,32% pada tahun 2021 dari sebelumnya 6,53% di tahun 2020.

BTN Syariah juga tercatat telah menghimpun DPK sebesar Rp29,26 triliun pada tahun 2021 atau naik 22,79% yoy dari Rp 23,83 triliun di tahun 2020. Dengan capaian tersebut, aset UUS BTN ini tumbuh di level 16,14% yoy menjadi Rp 38,36 triliun pada tahun 2021 dibandingkan periode yang sama tahun 2020 sebesar Rp 33,03 triliun.

sumber dilansir dari laman

cnbc